Saya sungguh dibuat penasaran dengan kontroversi keberadaan patung Obama di Taman Menteng. Saking penasarannya sehingga membuat langkah kakiku membawaku ke taman kota tersebut, apalagi kalau bukan untuk melongok patung kontroversial itu. Banyak orang (terutama tokoh budaya betawi) dibuat geram dengan keberadaan patung Obama yang secara estetis memang bagus namun tidak secara filosofis. Geram karena pemerintah DKI Jakarta lebih memilih untuk mematungkan Obama (hanya karena pernah tinggal di Menteng, dan bermain-main di Taman Menteng) daripada mematungkan tokoh-tokoh lokal yang punya kontribusi jelas bagi masyarakat Betawi dan Indonesia.

Langkah kakiku sampai di Taman Menteng dan betapa terkejutnya aku karena di situ ternyata tak hanya berdiri patung Obama yang sedang bermain kupu-kupu, namun di sebelahnya berderet enam patung lainnya dengan ukuran yang lebih besar. Persis di sebelah kanan patung Obama berdiri dengan gagah patung Bung Karno dengan gaya agak aneh, telunjuknya tak menunjuk langit tetapi menunjuk ke arah patung Obama. Mataku tertumbuk pada deretan tulisan di penyangga patung yang berbunyi “Hey Obama!! Di saat kamu masih bermain-main dengan kupu-kupu aku sudah berdiri gagah di depan sidang PBB. Semua orang kagum kepadaku termasuk bangsamu Amerika.”

Aku mengalihkan pandanganku kepada patung di sebelah kanan patung Bung Karno, berdiri patung Pak Harto dengan senyumannya yang khas itu. Aku terpaku pada tulisan di penyangga patung yang berbunyi” Hey Obama!!! Di saat kamu masih bermain daripada dengan kupu-kupu, bangsaku sudah bisa membuat pesawat daripada terbang.” Pandangan mataku berpaling kepada patung Habibie di sebelah kanan patung Pak Harto, matanya melotot memancarkan kecerdasan yang tiada tara. Kalimat apakah yang terpahat di penyangga patung? Hey Obama!!! Di saat kamu masih bermain dengan kupu-kupu aku sudah bermain-main dengan model pesawat terbang bikinanku”.

Aku bergeser ke patung berikutnya, patung Gus Dur. Hatiku langsung menari-nari penasaran dengan kata-kata apa yang tertulis di patung tokoh eksentrik dan humoris namun kharismatik itu. Bunyinya “Hey Obama!!! Negerimu memang tak seindah negeriku, sampai-sampai hanya untuk bermain-main dengan kupu-kupu saja kamu harus mengejarnya sampai ke Indonesia, gitu aja kok repot!!!”. Di sebelah patung Gus Dur berdiri patung Megawati dengan wajah teduhnya. Wah…ibu yang satu ini jarang bicara. Kira-kira kata-kata apa yang tertulis di patungnya? Tulisannya terlihat sangat singkat ” Hey Obama aku tak mau lagi menggunakan peribahasa produk bangsamu yang bunyinya “silent is gold”. Aku bangga dengan peribahasa peninggalan nenek moyangku “diam itu emas”.

Di sebelah patung megawati berdiri dengan gagah patung SBY sambil mendekap dada, bukan memelas dan minta dikasihani karena diserang sana sini tetapi sedang menepuk dada. Mataku terbelalak membaca deretan tulisan di bawah kakinya ,” Hey Obama!! Aku tak perlu minder sama kamu. Lihat saja kamu baru sekali jadi presiden sedangkan aku sudah dua kali dengan kemenangan yang meyakinkan pula.” Nah di ujung kanan berdiri patung lelaki dengan kumis melintang, patung Fauzi Bowo. Di penyangga patung tertulis “Hey Obama!!! Aku buatkan patungmu di Taman Menteng supaya kamu ingat bahwa kamu pernah tinggal di Indonesia. Kamu menyerap seluruh nilai luhur bangsaku yang sangat menjunjung tinggi perdamaian. Kalau kamu tidak pernah tinggal di Indonesia saya yakin kamu akan senasib dengan pendahulumu George W Bush yang dilempari sandal karena tak pernah tahu arti…perdamaian.

Aku berdiri mematung di depan deretan patung itu. Dalam hati aku bangga dengan para pemimpin negeri ini yang tak pernah merasa inferior dengan presiden dari negeri adidaya itu. Aku bangga dengan bangsa Indonesia yang tak merasa rendah jika berhadapan dengan bangsa asing. Setelah puas memandangi patung-patung itu akupun melangkah pulang dan…gubrakkkk @!!@!@@@!!!!****#####!!!!!….tiba-tiba aku menyadari tubuhku terlentang di rumput Taman Menteng. Ya ampun ….ternyata aku baru saja terjatuh dari bangku Taman Menteng setelah ketiduran karena keenakan menikmati kesejukan Taman Menteng. Mataku nanar mencari-cari patung Obama dan tubuhku langsung lemas ternyata patung Obama masih berdiri sendirian di sudut taman, bermain kupu-kupu sambil tertawa kecil. Tiba-tiba aku merasa Obama sedang mentertawakan bangsaku yang selalu inferior terhadap bangsanya . Aku juga merasa kupu-kupu yang jadi alat mainan Obama itu seperti bangsaku yang kerap jadi permainan bangsa asing.